Selasa, 02 Juni 2009

Potongan Cerita Lagi..

+ : Sungguh!! Akupun tak yakin kau yang melakukannya. Entahlah!! Siapapun dia, siapapun itu, aku benar-benar tak peduli padanya. Karenay ang sangat kupedulikan saat ini adalah pertolongan darimu. Yakinlah!! Meskipun kau sama sekali tidak mengenalku dari siapapun. Benar!! Benarlah aku mengenalmu dari apa yang kau tinggikan saat sekarang. Karena kau akan tahu siapa aku kelak setelahnya.

-- : Aku tak yakin sola ini!! Sungguh!! Benarkanlah bahwa aku takut akannya.

+ : Mudah bagimu berdusta. Lain arah dengan jiwa dan rasa yang tertanam dan larut dalam aliran darah disetiap nadiku.

-- : Aku pasti dibelenggu.

+ : Dan percayalah!! Aku akan melepaskanmu dari apa yang kau sebut belenggu itu. Sekuat dan sekeras apapun dia.

--: Bimbang, Dilema serta rasa ragu melanda setiap apa yang kupikirkan kini.

+ : Aku akan membalasnya. Lebih dari setiap yang kau anggap diatas.

-- : Baiklah!! Aku akan cari alasan untuk ini. Dan bernafaslah selagi kau bisa menahannya dlaam air.

+ : Aku pasti akan berterima kasih untuk ini.

-- : Pergilah!!

+ : Thank You!! "AHSEN".

Selasa, 12 Mei 2009

Aku Siapa (?)

Lagu Pengiring : Dilema Besar
Isi Mimpi :Kala itu yang kuingat adalah sewaktu Upacara Bendera dilapangan sekolah, pastilah itu adalah senin. Semua siswa berbaris rapi menurut kelas masing-masing. Masuk kedalam acara pemberian pengarahan oleh Pembina Upacara yang kala itu adalah Kepala Sekolah, iapun memberi ucapan salam pembuka terhadap kami. Tak lama setelahnya iapun memanggil sebuah nama yang asing bagiku tapi kumerasa bahwa nama itu adalah namaku. RAHzY, itulah kata yang diucapkannya untuk memanggil seseorang yang memiliki nama itu. Entahlah, kakiku terasa ringan untuk melangkah kedepan, seolah-olah berkeinginan untuk memenuhi panggilan nama itu. Kumelangkah maju kedepan menghampiri kepala sekolah yang memanggilku dengan nama asing itu yang sembari turun dan menungguku didepan mimbar tempat ia berpijak sebelumnya. Tak berselang lama, akupun sampai dihadapannya. Dia menatapku lama, ada yang aneh saat kutatap balik pandangannya, kucoba berkaca dibola matanya, kulihat wajah orang lain dimatanya yang seolah-olah itu adalah aku. Tak kupercaya aku adalah orang lain dalam hal ini, tak hanya nama, bahkan wajahku bukanlah wajahku yang kukenal lama sebelumnya. kami sempat berkomunikasi lama ditengah lapangan, entahlah kujuga lupa dengan apa yang kami bicarakan pada waktu itu. Tiba-tiba yang kuingat adalah ia sangat marah besar padaku lantas menampar keras wajahku, sakit bahkan terasa sampai sekarang tamparannya itu. Ia lantas mengacak-acak rambutku sehingga aku terlihat begitu berantakan, setelahnya ia menyuruhku untuk melepas sepata berikut alas kaosnya. Kumelepas perlahan sepatu dan alas kakiku itu hingga selesai, setelahnya ia menendang keras sepatuku itu hingga penyok. Ingin rasanya kumarah, tapi lansung teredam dalam sesaat, entahlah padahal kutak pernah sesabar itu. kemudian ia lansung melepas kemejaku dan membuan asal kemejaku itu, ingin kumeraih kemeja itu sebelum jatuh, tapi kaki berat terasa untuk melangkah menolong baju itu sebelum jatuh. Lalu badanku dibalikkan untuk menghadap matahari yang mulai menyengat kulit serta menghadap kearah teman-teman. Ia lantas kembali kemimbar dan mulai membicarakanku, entahlah kucuek dengan ucapannya itu dan tak mendengar sedikitpun apa yang dibicarakannya pada waktu itu, karena aku hanya sibuk berbicara dengan diriku sendiri. Kakiku terasa menggeliat karena lantai lapangan yang diaspal mulai menyerap panas matahari yang lansung menjalar masuk ketubuhku melalui serapan kulit telapak kaki. Tiba-tiba kumendengar sura gemuruh, entahlah lagi mungkin hanya aku yang bisa mendengar gemuruh itu. Tiba tiba kumengira langit mulai mendung, ternyata adalah bayangan. Bayangan itu benar-benar bisa membuat siapa saja terkejut kala itu. Ku yang sedang melamun sendiri itu tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan oleh seorang guru wanita yang berteriak Aaarrgggggggggghhhhhhrrgghhhhhhhhh.... Sontak membuat kuterkejut dan lansung memandang balik kepada apa yangm embuat guru itu berteriak histeris. Setelah kulihat, ternyata bayangan yang kukira adalah wal terjadinya hujan adalah bayangan seekor naga raksasa. Lansunglah mereka semua lari menyelamatkan diri mereka masing-masing. Aku terdiam terpaku tak bisa bergerak saat naga raksasa itu bergerak mendekatiku. Kini ia tepat dijarak 10cm didepan mataku, keringatku semakin menjadi-jadi karena ketakutan. Kemudian Naga Raksasa itu membuka mulutnya yang besar itu, sontak lansung bisa kulihat dengan jelas apa yang ada didalam mulutnya itu, seolah ingin menguap, iapun mengangkat kepanya keatas dan membuang udara dengan keras kearah atas. Ia lalu memandangku lagi dan menatap lamaaaaaaaaaaa sekali wajahku, tiba-tiba ada pancaran cahaya putih yang tidak begitu meyilaukanku tapi kulihat mampu menerangi sekitarku, ia berubah menjadi seorang wanita cantik, kulitnya mulus putih dan bersih tanpa noda. Ia lantas mengeluarkan kaos dalamku dan memegang daku yang penuh keringat. Ia lalu membasuhnya dengan ssapu tangannya, dan kemudian memakaikanku kaos. Sontak diriku lansung lemas dan terjatuh saat ia memegang tanganku dan sesorang keluar dari tubuhku. Ia mengajak orang itu terbang bersamanya dan meninggalkanku yang dalam keadaan yang sekarat, orang yang diajaknya itu lantas menoleh kearahku, ternyata wakah itu adalah wajahku yang kukira asing itu, dan diriku ternyata telah kembali pada diriku. Setelah mereka hilang dari pandangan, langit tiba-tiba menghitam dan petir kian saling mengundang dan berucap salam satu sama lain, hingga salah satu dari sambaran petir itu tersesat dan lansung mengarah padaku, kupun lansung terbangun dari tidurku itu. Menurutmu?

Selasa, 05 Mei 2009

Masih dengan Sepotong Cerita

Pagi itu sekitar jam 9 lebih, saat itu juga sedang berlansung pelajaran matematika yang sudah dimulai setengah jam yang lalu. Tiba-tiba dari luar pintu ada orang yang masuk, sepertinya kumengenali orang itu... ternyata dia adalah kembaranku yang selama 4 bulan lebih bingung mencari keberadaanku yang ternyata berada di gorontalo. Kupergi saat karena aku pernah tak dianggap sama sekali dihadapan orang banyak. Makanya ku marah dan lantas meninggalkan rumah tanpa sepengetahuannya. Aku amat manja kepadanya, segala kebutuhanku pasti dipenuhinya, tak sedikitpun dia membuatku mengangis ataupun terluka, dia sangat menjaga perasaanku. Tapi yang terjadi 4 bulan lebih yang lalu adalah hal yang benar-benar telah membuatlku kehilangan kesabaranku, kok bisa-bisanya dia tak menganggapku pada acara yang sepenting itu. Diapun segera masuk dan mendekat kepadaku.

My Twin : Kau harus ikut denganku sekarang!!

Aku menatapnya dengan wajah yang gahar dan marah padanya hingga diapun menamparku.

My Twin : Jangan memandangku dengan wajah yang seperti itu, karena aku tak menyukainya

Me : Pergilah dari hadapanku, karena keghadiranmu disini tidak kuinginkan

My Twin : Kurasa kita harus bicara

Me : Dan harus kuutarakan, kubenci mendengar semua omong-kosongmu

My Twin : Mengapa kau begitu menyebalkan??

Me : Kau merasakannya??

My Twin : Ya!!

Me : I don’t think so!!

My Twin : What???

Me : Pergilah dari sini, karena aku tak mau tahu tentang kalian lagi.

Terdiam sesaat dan diapun kembali melanjutkan pembicaraannya...

My Twin : Jangan sampai aku marah padamu

Me : Itu asaku. Bukankah kau sudah menunjukkannya

Dia ingin marah dan seolah-olah wajhnya menunjukkan ekspresi wajah amarah yang amat terdalam... Diapun mencoba meredam amarahnya..

My Twin : Aku sudah berusaha mengalah padamu

Me : Dan berhentilah merengek seperti banci metro. Kau tahu, aku benci pada orang bersikap lemah

My Twin : Lalu apa maumu?? (Dengan suara yang seakan berteriak)

Me : Yang jelas mauku bukanlah maumu, dan maumu bukanlah mauku. Pintu masih terbuka lebar, pergi selagi kubelum mempermalukanmu dan jangan menyesal setelahnya.

My Twin : Apa yang terjadi padamu??(Berharap dengan penuh harapan)

Me : Bukan urusanmu, cepat pergi dari sini, sebelum amarahku benar-benar memuncak

My Twin : Ta...

Me : Sudah kukatakan itu berulang-ulang kali, haruskah ada yang berdarah?

My Twin : Apa salahku, hah??

Me : Kuperjelas sekali lagi, pergi sebelum ku benar-benar marah padamu.

Dia menangsi, kucoba untuk menahan tangan untuk menyeka air matanya yang keluar karena bantahanku yang begitu menyakitkannya.

My Twin : Tanganku tercipta bukan untuk memukulmu

Me : Dan pukulanku yang kuat ini bukan untuk memukul benda lunak sepertimu

My Twin : Mana rasa hormatmu pada kakakmu

Me : Kau yang menganggapku, bukan aku

My Twin : Bahkkan sekarang kua begitu lantang padaku

Me : It’s me.. Baru tahu ya..???

Dia manangis biru tanpa suara dihadapanku. Hatiku menangis saat itu, karena aku telaj tega membentak orang yang paling kusayangi. Diapun pergi tanpa berucap kata lagi padaku, aku menyesal berkata kasar padanya, ku tak tega melihatnya menangis!! Entah kenapa ucapan kasar itu keluar lagi berasal dari lidahku.

Me : Bagus kau mengerti ucapanku. Hanya binatang yang tak mengerti ucapanku